Friday, 26 June 2015

Kabur dari Penjara New York, Napi Ditembak Tewas


New York - Gubernur negara bagian New York, Andrew Cuomo mengatakan hari Jumat (26/6) bahwa napi yang dipenjara karena kasus pembunuhan, Richard Matt, telah ditembak mati oleh polisi setelah seorang warga mengeluh karena mendengar suara tembakan di sebuah gerobak kemah di Malone, New York. Ia mengatakan polisi perbatasan datang dengan helikopter ke daerah itu dan mencium bau mesiu di dekatnya.
Cuomo mengatakan pihak berwenang belum mengetahui secara pasti keberadaan seorang napi lainnya yang turut melarikan diri. Tidak diketahui apakah napi David Sweat bersama Richard Matt pada waktu penembakan terjadi.
Matt, bersama Sweat, kabur dari Lembaga Pemasyarakatan kota Clinton di negara bagian New York, dekat perbatasan Kanada tiga minggu lalu, yang kemudian menyulut upaya pencarian besar-besaran.
Lebih dari 1.000 polisi Amerika telah ditugaskan untuk menemukan kedua napi yang lari itu.
Matt dan Sweat lolos dengan membobol sel mereka dengan menggunakan peralatan yang diselundupkan dalam daging hamburger yang beku, di penjara yang mempunyai pengamanan maksimum.
Dua karyawan penjara telah ditangkap sehubungan dengan pelarian itu. Gene Palmer dan Joyce Mitchell dituduh membantu menyelundupkan perkakas, termasuk mata gergaji besi dan mata bor kepada kedua napi itu.
Matt, 49 tahun, sedang menjalani hukuman 25 tahun hingga seumur hidup atas penculikan tahun 1997 dan memotong bagian tubuh mantan Bos-nya.
Sweat, 35 tahun, sedang menjalani hukuman seumur hidup tanpa pengurangan hukuman atas pembunuhan seorang polisi di negara bagian New York tahun 2002.

Negara bagian New York telah menawarkan hadiah $ 100.000 atas informasi mengenai kedua pelarian itu atau separuh jumlah itu atas informasi mengenai salah seorang dari mereka.
read more...

Thursday, 25 June 2015

Gelombang Panas di Karachi Tewaskan 1000 Orang Lebih


Karachi - Gelombang panas terburuk dalam hampir 35 tahun yang melanda Karachi, Pakistan, telah menewaskan 1.000 orang lebih dan membuat kamar-kamar jenazah kehabisan tempat pada Kamis (25/6).
Pejabat senior organisasi amal Edhu Foundation, Anwar Kazmi, menuturkan, kantung-kantung berisi mayat ditumpuk di lantai kamar jenazah karena unit pendingin tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
"Unit pendingin tidak bekerja sebagaimana mestinya karena ada terlalu banyak jenazah," katanya.
Kazmi mengatakan lebih dari 1.000 orang telah meninggal dunia terkait panas. Pemerintah provinsi tidak berbuat banyak, hanya saling menyalahkan satu sama lain, katanya.
"Kami memberikan penghargaan kepada para dokter dan staf rumah sakit pemerintah yang bekerja tak kenal lelah merawat pasien yang jumlahnya tak terbatas," katanya seperti dilansir kantor berita Reuters.
Rumah sakit-rumah sakit memanggil mahasiswa kedokteran untuk bekerja ekstra serta mengajukan permintaan barang-barang dasar seperti seprei dan usungan.
Banyak rumah sakit publik menyatakan warga menyumbangkan air es dan barang persediaan lain dan bahwa jumlah pasien perlahan menurun bersama penurunan temperatur.
Permintaan air dingin dan usungan dari rumah sakit Jinnah mendapat respons luar biasa, kata Dr. Tasneem Butt.
Dan kegiatan amal dilakukan untuk meminjamkan pendingin udara, kata Butt, yang teleponnya kemudian berdering karena ada penyumbang lain yang menelpon.
Selain itu tenda-tenda yang menawarkan air es dan garam rehidrasi sudah menjamur di sudut-sudut jalan, digelar oleh partai-partai politik oposisi dan militer.
Warga di satu permukiman menetak pipa air utama dan kemudian menari gembira dalam semprotan air.
Gelombang panas yang melanda kota berpenduduk 20 juta jiwa itu datang ketika pemutusan aliran listrik parah terjadi, menyebabkan banyak orang tanpa kipas angin, air atau cahaya pada awal bulan Ramadhan, ketika banyak Muslim berpuasa pada siang hari.

Suhu udara kota itu sampai 44 derajat Celsius pada akhir pekan, yang terpanas sejak 1981, namun kemudian turun menjadi 38 derajat Celcius pada Kamis. Para pemrakira memperkirakan hujan akan turun tapi sampai sekarang hujan belum juga datang.
read more...

Dapat Pasokan Gas dari Papua, PLN di Belawan Bisa Hemat Rp 6 Miliar/Hari


Jakarta -Terminal regasifikasi Arun kembali menerima kargo Gas alam cair (LNG) dari Kilang LNG Tangguh, Papua sebanyak 138.000 meter kubik. Bila pasokan gas bumi ini lancar, maka akan membuat PT PLN (Persero) bisa menghemat Rp 6 miliar/hari, karena pembangkit listriknya mendapat pasokan gas sehingga tidak lagi menggunakan BBM (bahan bakar minyak).
Direktur Utama Perta Arun Gas Teuku Khaidir mengatakan, sejak menerima kargo perdana pada 19 Februari 2015, Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun telah beroperasi dengan aman dan lancar. Plant availability factor hingga akhir Mei lalu nyaris 100% yang artinya fasilitas tersebut terbukti andal untuk menerima dan meregasifikasi LNG untuk dipasok kepada konsumen.
Hari ini (25/06/2015), Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun menerima kargo LNG kelima dari Kilang LNG Tangguh dengan volume sekitar 138.000 m3. LNG tersebut akan dialirkan dari Arun Aceh kepada pembangkit listrik PLN di Belawan Sumatera Utara melalui pipa transmisi gas Arun-Belawan.
"Bila kondisi ini terus berlanjut, maka PLN bisa efisiensi Rp 6 miliar/hari, industri di Aceh dan Medan dapat produksi lebih murah dengan gas bumi," terang Teuku Khaidir dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2015).
Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun akan memegang peranan penting bagi bisnis gas alam Pertamina di masa mendatang. Fasilitas yang merupakan hasil modifikasi kilang LNG yang pertama kali di dunia itu, akan menjadi sumber tumpuan utama bagi pemenuhan kebutuhan gas industri dan listrik, tidak hanya di wilayah Nangroe Aceh Darussalam, tetapi juga wilayah Indonesia lainnya.
"Dengan masuknya kargo LNG yang kelima ini, serapan gas PLN akan kembali meningkat menjadi di atas 90 mmscfd, dari rata-rata sebelumnya sekitar 75 mmscfd. Sesuai dengan kontrak, pasokan gas untuk PLN akan meningkat secara bertahap hingga ke depannya akan mencapai stabil pada level 105 mmscfd," ungkapnya.
Dengan statusnya sebagai hub yang memiliki potensi kapasitas storage LNG sebesar 12 juta ton per tahun, Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun. Fasilitas tersebut dapat menjadi pengumpan bagi fasilitas Terminal Penerimaan dan Regasifikasi LNG ataupun Floating Storage and Regasification Unit yang sudah ada maupun yang akan dibangun Pertamina.
Sebagaimana diketahui, selain telah mendapatkan komitmen pasokan dari kilang-kilang LNG domestik, Pertamina juga sudah memastikan pasokan dari sumber-sumber luar negeri.

Pertamina mendapatkan kepastian pasokan LNG dari Cheniere Corpus Christi, Amerika Serikat sebanyak 1,5 juta ton mulai 2019 selama 20 tahun, juga dari Afrika sebanyak 1 juta ton per tahun, mulai 2020 untuk jangka waktu 20 tahun.
read more...

Kebiasaan Ekonomi Perlu Diubah dari Konsumtif Jadi Produktif


JAKARTA – Pemerintah perlu mengajak masyarakat untuk mengubah pola ekonomi dari yang biasanya sebagai masyarakat konsumtif menjadi masyarakat yang produktif.
Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT), mengungkapkan perubahan itu dapat dilakukan dengan mengamati dan mencontoh bagaimana cara bangsa asing dalam mengubah bangsanya.
"Jadi Negara Indonesia itu perlu pembenahan, bagaimana seharusnya kita dapat mengamati bangsa asing sehingga kita bisa bekerja secara maksimal. Karena salah satu yang bisa dilakukan bangsa ini yaitu bagaimana kesenjangan sosial itu dipersimpit," ujar HT, saat ditemui di Jakarta, Kamis (25/6/2015).
Dia menyatakan, Indonesia perlu melakukan pembenahan. Karena, sebagai sebuah negara Indonesia memiliki potensi di mana negara lain tidak memilikinya.
"Seharusnya Negara Indonesia itu merupakan negara yang maju, tapi kenyataannya saat ini banyak kontradiksi. Indonesia memiliki laut paling besar kemudian negeri ini luas, subur dan lain-lain. Jadi potensi Indonesia itu besar sekali. Di mana ada negara lain punya Indonesia juga punya, sementara negara lain tidak punya tapi kita memiliki," paparnya.
Oleh karenanya, CEO MNC Group ini menyarankan agar pemerintah memberikan program khusus yang diarahkan kepada masyarakat kecil, agar kesenjangan sosial tersebut dapat dihapuskan.
"Masyarakat mikro, yaitu petani nelayan dan juga buruh. Sehingga, bagaimana ada program khusus yang diarahkan kepada mereka supaya mereka sejahtera dan kesenjangan sosial itu dapat dihilangkan," imbuhnya.
Selanjutnya, HT menyarankan kepada pemerintahan Jokowi-JK dapat memaksimalkan potensi sumber daya alam yang dianugrahkan tuhan kepada bangsa ini. Pemanfaatan potensi sumber daya alam itu, ungkap HT, berupa menggeser ekonomi dari semula masyarakat yang konsumtif menjadi masyarakat produktif.

"Kita bisa maksimalkan sumber daya alam yang bisa kita miliki dan melakukan kebijakan-kebijakan yang masyarakat ini, kita perlu menggeser ekonomi yang sifatnya konsumsi ini yang sekarang bisa produksi. Karena kita tidak bisa sebagai wasit saja namun harus ada kebijakan yang pasti," tukasnya.
read more...

Jusuf Kalla Dorong Menteri Ekonomi Tingkatkan Kinerja


Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7 persen pada kuartal I 2015. Angka ini turun 0,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 5,21 persen. Inflasi pun tercatat mencapai 7,15 persen dari Mei 2014-Mei 2015.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pun mengakui, ada sejumlah menteri di bidang ekonomi yang kinerjanya belum mencapai target. JK juga mendorong kinerja para menteri tersebut untuk memajukan perekonomian.
"Ya ada yang mencapai, ada yang masih bekerja. Tidak semuanya tentu. Ya kita nilai tidak harus hanya 6 bulan saja. Tapi harus agak jangka menengah tapi memang banyak yang harus didorong peningkatannya‎," kata dia, di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (25/6/2015).
JK menuturkan lesunya ekonomi tidak hanya disebabkan oleh faktor buruknya kinerja menteri, melainkan juga faktor eksternal. Menghadapi faktor eksternal ini, para menteri harus bekerja lebih baik lagi.
"Masalah ekonomi itu bukan hanya masalah kerja kabinet tapi juga dipengaruhi masalah dari luar. Bahwa kabinet harus kerja lebih baik, ya pasti. Kita usahakan itu. Kita bekerja lebih baik," tutur JK.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani dan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat ‎berharap ada perombakan kabinet. Mereka meminta menteri di bidang ekonomi dijabat orang yang handal.

Terkait hal ini, JK menjelaskan para pengusaha boleh saja memberi usul untuk mengganti, tapi keputusan bukan di tangan mereka.‎ "Pengusaha boleh mengusulkan tapi yang menentukan pemerintah itu sendiri," tandas Jusuf Kalla.
read more...

Monday, 22 June 2015

Hai Fa Kabur ke China, Menteri Susi: Ini Pengalaman Pahit


Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kembali berkomentar pedas tentang larinya kapal MV Hai Fa berbobot 4.306 Gross Ton (GT) ke China. ‎Kapal illegal fishing yang rencananya bakal ditenggelamkan itu sudah berlayar kembali ke China, tanpa Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dan Surat Layak Operasi (SLO).
"Kita kehilangan 900 ton dan melenggang pergi tanpa SPB dan SLO. Ini pengalaman yang sangat pahit, di mana konsesus hukum kita masih kurang konsisten dari bagian penegakan hukum di dalam negeri ini‎," keluh Susi saat menghadiri acara diskusi 'Pangan Kita' di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (22/6/2015).
Susi mengungkapkan kekecewaannya, terhadap kinerja yang dilakukan Pengadilan Perikanan Ambon yang memproses hukum kasus Hai Fa. Padahal menurut Susi, ia sendiri yang meresmikan langsung dibukanya Pengadilan Perikanan Ambon ‎akhir tahun 2014 lalu.
"Yang sedih, Pengadilan Perikanan Ambon yang meresmikan langsung saya, yang saat itu saya berharap adanya advokasi dan dijaga kedaulatan laut di sana, tetapi justru pengadilan lain-lain bisa disita negara, di pengadilan kita justru kalah melenggang di Rp 100 juta (sanksi administrasi 5 kapal Sino) dan Rp 200 juta (Hai Fa)," tuturnya.
Ke depan agar kejadian Hai Fa tidak terulang, pihaknya akan menenggelamkan langsung kapal yang terbukti melakukan praktik illegal fishing. Proses penenggelaman langsung kapal ‎setelah proses penangkapan terjadi dibenarkan dan diatur dalam Undang-undang Perikanan.

"‎Penenggelaman kapal sangat efektif saat menghadapi ribuan kapal. Caranya bagaimana dengan efek psikologis dengan efek jera. Kalau masuk pengadilan yang tidak komit seperti apa yang terjadi di Hai Fa," sindir Susi.
read more...

Mantan Pembantu Terbayang Angeline Disiksa Margriet


Prarekonstruksi kasus penelantaran anak dengan tersangka Margriet Christina Megawe telah selesai digelar di rumah Margriet, Jalan Sedap Malam, Kota Denpasar, Bali. Tiga saksi yang dihadirkan memeragakan 11 adegan.
Sekira pukul 09.30 Wita, para saksi memasuki rumah Margriet dan 1,5 jam kemudian mereka keluar menandakan prarekontruksi telah selesai.
Juru bicara sekaligus pendamping hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapurah, mengatakan, berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) ada 11 adegan yang diperagakan. Di dalamnya terdapat adegan Angeline dipukul, dijambak, dan diseret.
Tiga saksi yang dihadirkan adalah Frangky A Maringka, Yuliet Christien, dan Lorraine I. Soriton. Frangky dan Yuliet merupakan mantan pembantu yang bekerja selama tiga bulan di rumah Margriet, sementara Lorraine kerabat Margriet.
"Berdasarkan BAP ada 11 adegan. Beberapa adegan berada di lantai dua. Di sana ada adegan pemukulan, si tersangka mejambak Angeline, dan masih banyak adegan lainnya," terang Ipung -sapaan Siti Sapurah- di lokasi, Senin (22/6/2015).
Selain di lantai dua, prarekonstruksi juga berlangsung di sekitar kandang ayam, tempat jenazah Angeline dikubur. "(Sebanyak) 11 adegan itu yang diambil cuma yang penting-penting," tambahnya.
Sementara Frangky mengaku memeragakan 10 adegan. Mantan pembantu di rumah Margriet itu menjelaskan, salah satunya Angeline dipukul menggunakan bambu.
"Saya memeragakan ada 10 adegan. Angeline tidak hanya dipukul satu kali, tapi berkali-kali," ungkapnya.

Saat reka adegan itu, Frangky mengaku terbayang-bayang bagaimana bocah delapan tahun tersebut disiksa ibu angkatnya. "Terasa masih terbayang Angeline merasa kesakitan saat dipukul oleh ibunya," pungkas dia.
read more...
 
Copyright © 2015 Informasi • All Rights Reserved.
back to top