Semua pengusaha ingin
perusahaannya maju dan bertambah besar. Tetapi, ibarat orang, perusahaan besar
cenderung bergerak lamban, birokratis dan nyaman menjalankan “bussiness as
usual”.
Memang, tiap perusahaan
punya kiat berbeda agar tetap dapat bergerak lincah, meski ukuran organisasinya
kian gemuk. Google, misalnya, membebaskan karyawannya untuk menggunakan 20
persen waktu kerjanya untuk mewujudkan ide-ide atau ketertarikannya secara
pribadi.
Hasilnya, dari sanalah
inovasi hebat semacam Gmail lahir dan jadi produk utama Google. Kedua, seperti
tertulis dalam buku “How Google Works”, Google membuat sistem yang memastikan
tiap ide bagus dari mana pun akan didengarkan, dan bahwa dalam membuat
keputusan, data lebih penting ketimbang pengalaman, intuisi dan hirarki.
Saat kreativitas dan
potensi seseorang justru terbentur oleh sistem perusahaan yang kaku, di situlah
timbul pertanyaan pada dirinya: tunduk atau keluar dengan segala risikonya?
Desmal Andi, Eko
Lannueardy dan Iwan Siallagan memilih keluar sesudah merintis karir selama
lebih dari satu dekade di salah satu grup media terbesar di Indonesia.
Ketiganya kemudian mendirikan start-up PT Mobitekno Cipta Media yang membawahi
Mobitekno.com, situs yang memadukan berita komputer, gadget dan perangkat
elektronik lainnya dengan otomotif dalam bingkai teknologi.
Mereka membesarkan
situs yang mulai aktif sejak 13 April 2015 ini dengan telaten dan tumbuh secara
organik. Topik yang mereka bahas terbagi dalam rubrik News, Community, Review,
Accessories dan Gallery. Di bagian News, saat artikel ini ditulis, berita
seputar teknologi gadget tampak lebih mendominasi dibanding otomotif, namun
sebaliknya di bagian Community.
Di bagian News
Otomotif, kita bisa melihat topik pembahasannya bukan seperti situs otomotif
kebanyakan karena menyuguhkan konten yang lebih dominan ke “smart car”.
Misalnya, berita berjudul “Jaguar Kembangkan Teknologi Deteksi Lubang di
Jalan”, atau “Teknologi Masa Depan BMW Dapat Prediksi Keadaan Tempat
Parkir”. Review mengenai produk mobil
juga tak menyajikan data seperti top speed, waktu tempuh dari 0-100 Km/jam dan
sebagainya.
Dalam struktur
perusahaan, Desmal tercatat sebagai Direktur Utama sekaligus Pemimpin Redaksi,
sedangkan Eko dan Iwan bertindak selaku Direktur sekaligus Editor. Mereka juga
membagi porsi kepemilikan saham secara merata, masing-masing 20 persen.
Sementara sisanya dipegang oleh dua investor.
“Gue sengaja membagi
porsinya begitu agar kami bisa berjalan independen,” kata Desmal dalam
perbincangan dengan Metrotvnews.com, Rabu (17/6/2015). Dia juga ditemani
rekannya, Eko.
Ide pendirian Mobitekno
muncul dari Desmal karena ketertarikannya kepada teknologi dan otomotif atau
perpaduan keduanya. Dia sudah berupaya mengulas kedua hal itu selama setahun
lebih di perusahaan lama tempat dia bekerja, namun ruang eksplorasi ide-idenya
akhirnya mentok juga.
Berawal dari sekadar
bertukar pikiran dengan kedua rekannya pada medio 2014 lalu, niat Desmal untuk
resign dan merintis usaha sendiri kian menguat karena mendapat dukungan, baik
moral maupun dana. Apalagi, pada awal tahun ini, dia bertemu investor yang
memahami dan bersedia menanamkan modal untuk membiayai operasional Mobitekno,
setidaknya sampai tiga tahun ke depan.
Merintis usaha di usia
yang memasuki 40 tahun tentu bukan perkara gampang. Lebih susah lagi karena
Desmal dan Eko sama-sama sudah berkeluarga dan memiliki anak yang sudah
sekolah. Dengan masa kerja lebih dari 10 tahun, mereka sudah dapat bekerja
“santai”, menerima gaji, tunjangan, bonus dan fasilitas yang cukup. Tetapi,
pepatah, “Life Begin at 40”, tampaknya benar-benar berlaku bagi ketiga orang
ini.
Meski demikian, Desmal
mengakui, butuh waktu beberapa bulan untuk meyakinkan istri dan keluarganya.
“Saat gue bilang ada
investor, istri semakin tenang. Gue juga punya usaha lain di rumah sebagai
back-up kalau ini tak berjalan sesuai rencana,” kata Desmal.
Eko juga menyampaikan
hal yang sama. “Orangtua gue tadinya mempertanyakan, gue sudah di grup besar,
kalau sabar, sudah tinggal bekerja aman dan nyaman,” katanya. “Tetapi, kembali
lagi, gue di sini menjalani apa yang gue suka, sesuatu yang baru buat gue.”
Kepada kedua investor
Mobitekno, Desmal menyampaikan rencana untuk fokus mengembangkan konten dan
branding pada tahun pertama. Mereka baru akan mulai mengembangkan bisnis pada
tahun berikutnya.
Branding dan
kredibilitas Mobitekno sedikit banyak terbantu oleh reputasi ketiga pendirinya
yang memang bukan nama asing di industri teknologi. Dengan demikian, mereka
bisa bergerak cepat ke seluruh pemangku kepentingan, termasuk yang berpotensi
memasang iklan.
Dengan melihat
perkembangan sejauh ini dan bagaimana visi mereka ke depan, Mobitekno akan
mampu menarik lebih banyak pembaca. Apalagi, mereka berencana memperkaya konten
multimedia, termasuk video review. Mereka rutin memperbarui konten, sesuatu
yang sangat penting bagi situs online. Untuk mencapai itu, mereka membuat ritme
kerja se-fleksibel mungkin: karyawan tak harus ke kantor tiap hari.
“Bagi gue yang penting
konten bukan absen,” kata Desmal.
Posisi Mobitekno juga
tergolong unik karena belum ada media yang fokus membahas kedua hal itu secara
spesifik dan serius. Di sisi lain, industri teknologi dan otomotif masih
berpotensi besar di masa yang akan datang.
Tantangannya, mereka
harus bisa menghadirkan konten unik secara konsisten. Jika sebagian besar isinya
masih sama dengan situs lain, termasuk yang sedang Anda baca ini, lalu untuk
apa pembaca mengunjungi Mobitekno?
Kedua, tentu saja
monetisasi. Ini mungkin tantangan terbesar Mobitekno, juga semua situs berita
yang lain. Kita tahu, dua pemangsa iklan terbesar di dunia saat ini adalah
Google dan Facebook, yang bahkan media besar sekalipun termasuk sebagai klien
mereka. Model iklan banner sudah memasuki masa senja karena adblock, lalu
sebagian media menyiasatinya dengan native ads dan event. Apa pilihan Mobitekno?
Melihat kegigihan usaha
dan tantangan yang mereka hadapi, mungkin Anda bertanya, “Inikah yang dikatakan
keluar dari zona nyaman?”
“Jangan salah, gue
bukan keluar dari zona nyaman ke enggak nyaman. Gue keluar dari zona nyaman ke
zona yang lebih nyaman,” kata Eko.


0 comments:
Post a Comment